DARI AWAL

 


Itu akan selalu menyakitiku apabila harus mengenalmu dari awal lagi. Awal selalu menuntut aku melupakan semua yang pernah kita bangun— mengingkari jalan yang pernah kita lewati, menutup mata pada rumah yang pernah kita tinggali, dan pura-pura tidak mengenal aroma rotimu di pagi hari. Dari awal berarti aku harus kembali menyebut namamu dengan hati-hati, seperti orang asing yang takut salah memanggil, padahal aku pernah menyebutnya di tengah tidur, tanpa sadar, tanpa ragu, dan setiap kali aku menyebutnya, kau menoleh meski jarak kita adalah sebuah benua. Dari awal berarti aku harus mengulurkan tangan seolah belum pernah merasakan beratnya genggamanmu. Aku harus menatap matamu seakan-akan aku belum tahu apa yang tersimpan di belakangnya— sungai yang selalu mengalir ke satu arah, padang yang selalu menunggu hujan yang sama, dan sepotong langit yang tidak bisa dibagi dengan siapa pun. Mengulang dari awal berarti membongkar semua bahasa yang pernah kita ciptakan; bahasa yang tidak memiliki kamus, bahasa yang hanya hidup di antara dua napas, bahasa yang mengajarkan bahwa diam pun bisa menjadi sebuah jawaban. Bagaimana jika kali ini bahasa itu tidak lahir kembali? Bagaimana jika aku hanya menemukan huruf-huruf yang tidak lagi mau saling menggenggam dan membentuk kata? Mengulang dari awal berarti menanam pohon di tanah yang sudah tahu bentuk akarnya, tetapi harus pura-pura tidak tahu agar bisa tumbuh lagi. Mengulang dari awal berarti menunggu hujan yang pernah datang tanpa diundang, namun kali ini kita harus memanggilnya dengan doa-doa yang asing di bibir kita. Kalau aku mengenalmu dari awal lagi, aku harus kembali mengukur jarak antara langkahmu dan langkahku, padahal aku pernah tahu persis berapa panjang satu musim gugur jika diukur dengan derap kaki kita. Itu akan selalu menyakitiku apabila harus mengenal seseorang dari awal lagi, karena awal adalah jalan tanpa tanda, jalan yang membuat kita pura-pura tersesat meski kita tahu di ujungnya ada pintu yang pernah kita buka bersama. Awal adalah meja kosong di mana kita duduk tanpa piring, tanpa gelas, tanpa cerita, dan menunggu seseorang datang membawa jam yang bisa memutar waktu ke saat aku masih tahu bagaimana memanggilmu tanpa merasa seperti pencuri ingatan. Aku tidak ingin mengulangnya. Aku ingin bertemu di tengah— di titik di mana kita pernah saling kehilangan, lalu saling menemukan lagi, tanpa harus menyebut nama, tanpa harus pura-pura tidak pernah bersentuhan. Aku ingin berdiri di sana, dan melihat kau kembali seperti seseorang yang baru saja pulang dari perang, membawa tubuhmu yang utuh dan cerita yang hanya bisa kau bagi kepadaku. Karena kalau harus dari awal lagi, aku takut bukan hanya cerita yang hilang, tapi juga aku— bagian dari diriku yang pernah kau simpan, yang tak bisa kukembalikan kecuali lewat kenangan yang sekarang sedang kau suruh aku lupakan.

Komentar