CATATAN WIKINUSANTARA 2026: SEBUAH RUANG DI MAKASSAR

Foto bersama komunitas Wikimedia Banjar

Menjejak tanah Makassar untuk kali kedua, rasanya tidak terlalu bisa saya jelaskan. Pada dasarnya, Makassar bukan sekadar kota tujuan, tapi semacam ruang antara tempat orang-orang singgah, membawa cerita masing-masing, lalu pulang dengan sesuatu yang sedikit berubah di dalam diri mereka. 

Saya beranjak dari ibu kota Kalimantan Selatan bersama tiga orang lain: Raihan, Radhian, dan Martini pada 10 April. Kami berempat membawa sesuatu yang cukup samar: semangat komunitas, rasa ingin tahu, dan mungkin juga sedikit kecanggungan yang masih tersisa dari masa lalu saya bersama dunia per-wiki-an. 

Kami berangkat hampir pukul enam sore, dan tiba di Makassar sekitar pukul delapan malam. Waktu yang terasa agak cepat, tapi juga cukup untuk membiarkan pikiran saya melayang ke tahun 2023, ketika saya pertama kali ikut WikiNusantara di kota sendiri: Banjarmasin.

Waktu itu, saya turut hadir sebagai peserta lokal. Datang, duduk, mendengarkan, pulang. Tapi saya tidak merasa benar-benar terlibat. Masih canggung, masih merasa seperti orang luar yang kebetulan masuk ke sebuah ruangan yang penuh dengan orang-orang yang sudah saling mengenal lebih dulu. Gerakan Wikimedia, saat itu, masih terasa sebagai bahasa yang saya pelajari dari jauh.

Tapi di tahun 2026, tentu semuanya berbeda. Kali ini saya datang sebagai peserta penerima beasiswa WikiNusantara 2026 di Makassar. Ada semacam legitimasi yang tidak saya minta, tapi diam-diam saya butuhkan.

Malam pertama di Makassar langsung disuguhi sesuatu yang bisa saya sebut sebagai “obrolan daging”, karena memang begitulah kesan yang saya dapatkan. Sesi berbagi bersama Ivan Lanin, sosok yang sudah malang melintang di sosial media sebagai pakar dan aktivis bahasa Indonesia. 

Dalam kesempatan ini, ia berbagi pengalaman, disiplin, dan semacam etika tak tertulis tentang bagaimana kita memperlakukan pengetahuan. Saya duduk di sana, mendengarkan, dan tentu saja, mencoba berbaur di tengah banyak wajah asing. 

Keesokan harinya, acara berjalan lebih padat. Dan bisa disebut, inilah puncak acara WikiNusantara 2026. Dari sini pula saya mulai melihat pola yang lebih besar.

Sesi presentasi pertama oleh Husnul Fahimah Ilyas dari Makassar Heritage Society (Mahesty), tentang pendokumentasian manuskrip Bugis-Makassar, yang menurut saya perlahan membuka sesuatu yang selama ini jarang saya pikirkan. 

Naskah kuno, dokumen yang tidak tercetak, rapuh, dan sering kali tersembunyi di ruang-ruang privat, ternyata tidak hanya soal teks, tapi juga soal ritual. Untuk mengaksesnya, kita harus mengikuti syarat-syarat tertentu: ziarah, membakar dupa, menghormati sesuatu yang tidak sepenuhnya kita pahami. Ada jarak antara pengetahuan dan kita, dan jarak itu tidak selalu bisa ditembus dengan teknologi saja.

Lalu sesi presentasi pendokumentasian budaya dan masyarakat Adat oleh Ahmad Taqiyuddin Ibnu Syihab dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang berkolaborasi bersama komunitas Wiktionary Indonesia melalui proyek WikiKatha. Taqi menyoroti bahasa sebagai penanda hidup, bukan sekadar alat komunikasi. Ia juga membahas tentang bagaimana sebuah kata bisa menjadi rumah bagi ingatan, bagi leluhur, bagi cara hidup. 

Satu kalimat yang tertinggal di kepala saya setelah presentasinya yang berapi-api itu selesai: dokumentasi bukan hanya soal arsip, tapi soal keberlanjutan hidup! 

Di titik ini, saya merasa WikiNusantara lebih dari sekadar pertemuan antar individu maupun komunitas. Ia mulai menyerupai sesuatu yang lebih intim dan lebur. Semacam usaha kolektif untuk memastikan bahwa hal-hal kecil tidak benar-benar hilang.

Sesi-sesi berikutnya bergerak ke arah yang lebih teknis, tapi tetap menyimpan kegelisahan yang sama. Pemanfaatan Wikipedia dan Wikidata dalam pemrosesan bahasa alami (NLP), misalnya, membuka kesadaran bahwa para kontributor, orang-orang biasa yang menulis, menyunting, memperbaiki, ternyata ikut membentuk ekosistem kecerdasan buatan (AI). Hal ini disampaikan dengan sangat runut oleh Ika Alfina. 

Suardi Sahid malah memberikan kesan yang cukup menyentuh dalam sesi pemaparannya yang berjudul Membangun Dasar Infrastfuktur Pengetahuan di Papua Barat Berdasarkan Wikidata. Dalam penyampaiannya, ia berbicara soal data sekolah di Papua Barat, tentang kesenjangan, tentang bagaimana Wikidata bisa menjadi semacam cermin pembanding bagi data resmi milik pemerintah. 

Lalu ada Nur Aini Rakhmawati alias Mama Android yang membicarakan linked data untuk produk halal, tentang knowledge graphs, semuanya seperti potongan puzzle yang perlahan membentuk gambar yang lebih besar: pengetahuan bukan sesuatu yang statis. Ia hidup, bergerak, dan kadang-kadang, ia butuh orang-orang yang cukup keras kepala untuk merawatnya.

Dalan jeda istirahat dan makan siang, ada sesi pameran poster yang berisi kompilasi proyek-proyek yang telah selesai dilakukan komunitas. Selesai istirahat siang, ada sesi presentasi kelas dan lokarya dari sesama kontributor. Baik atas nama individu, maupun komunitas. 

Sore harinya kami berjalan-jalan ke sekitar Masjid 99 Kubah dan Benteng Rotterdam. Mengambil foto, bercanda, mencoba menangkap momen yang sebenarnya tidak bisa sepenuhnya ditangkap. Matahari mulai turun, dan warna langit berubah pelan-pelan. 

Malamnya, kami mencoba mengenal lebih jauh lewat malam keakraban di dekat Monumen Mandala. Kegiatan ini diisi hiburan, sharing komunitas, pertunjungan tari paraga, kuis, dan tidak lupa foto bersama. 

Hari kedua terasa lebih ringan, tapi justru lebih reflektif dengan sesi sharing, perkenalan proyek, dan diskusi dalam kelompok kecil. Saya duduk di meja nomor sembilan, mendengarkan permasalahan yang dihadapi Wikimedia saat ini, serta rencana-rencana yang mungkin akan terwujud, dan mungkin juga tidak. 

Acara berakhir ketika sore. Ditutup dengan perpisahan kecil dan harapan-harapan untuk bertemu di lain kesempatan, dan tentu saja, beberapa jepretan foto (lagi).

Kami pulang saat jam nenunjukkan 11.55 Wita di tanggal 13 April. Sebelum itu, tentu saja, membeli oleh-oleh. Hal-hal kecil yang akan menjadi penanda bahwa perjalanan ini benar-benar terjadi.

Di pesawat, saya kembali memikirkan semuanya: tentang 2023 dan 2026, tentang jarak di antara keduanya, tentang bagaimana seseorang bisa berubah tanpa benar-benar menyadarinya.

WikiNusantara kali ini tidak hanya memberi saya pengetahuan. Ia memberi saya perrasaan memiliki. Sesuatu yang di tahun 2023 lalu belum sempat saya rasakan.

Dan mungkin, di masa depan, saya akan kembali ke kota lain, dengan orang-orang yang berbeda, dalam acara yang serupa. Tapi saya tahu, akan selalu ada satu hal yang sama: keinginan untuk terus berkontribusi, sekecil apa pun itu.

Karena pada akhirnya, mungkin inilah yang kita lakukan: menulis, mendokumentasikan, dan mengarsipkan, bukan untuk menjadi besar, tapi agar sesuatu tidak hilang begitu saja. 

Setidaknya, seperti yang dikatakan M. Rifqi Saifudin dalam sambutan penghargaan sebagai kontributor Wikimedia teraktif: “Saat saya tidak ada lagi di dunia ini, tidak ada yang saya tinggalkan kecuali saya menulis. Maka tulisan-tulisan itulah peninggalan yang bisa dilihat oleh keturunan saya.”

Saya lupa bagaimana persis kalimatnya, tapi begitulah kira-kira intinya. 

Terima kasih. 

Foto bersama yang diabadikan dalam selembar kartu pos 


Komentar