![]() |
| Ilustrasi: Pinterest |
RAHASIA
Ada sebuah rahasia di dalam diriku;
kuceritakan pada gunung.
Ada sebuah rahasia di dalam diriku;
kuceritakan pada sumur.
Di jalan yang panjang,
sendiri dan sunyi,
kuceritakan pada kuda hitam,
kuceritakan pada batu-batu.
Dengan rahasia lama itu
akhirnya aku tiba.
Aku tidak berkata apa-apa,
kau tidak berkata apa-apa.
Air mata jatuh dari mataku,
air mata jatuh dari matamu.
Lalu kututup bibirku—
dan kau membaca semuanya
dari mataku.
---
IKAN
Tak pernah sebelumnya hatiku,
kurasa,
semerah dan sehangat ini.
Di detik-detik terburuk
dari malam yang mematikan ini
aku merasakan
ribuan mata air matahari
memancar dengan pasti
di dalam dadaku.
Di setiap sudut
padang garam keputusasaan ini
ribuan hutan yang hidup
tiba-tiba tumbuh
dari tanah.
Kau! Kepastian yang hilang dariku!
Ikan yang melarikan diri!
Menyelinap keluar masuk
dari danau-danau cermin.
Aku adalah kolam yang menyaring;
dengan sihir cinta kini
carilah jalan menuju diriku
dari danau-danau cermin itu.
Tak pernah sebelumnya tanganku,
kurasa,
seceria dan sebesar ini.
Dengan air terjun
air mata merah
di mataku
aku merasakan
matahari tanpa senja
bernapas seperti nyanyian.
Di setiap uratku
pada setiap detak jantungku
aku merasakan
lonceng kafilah
yang baru terbangun.
Ia masuk lewat pintu suatu malam,
telanjang seperti jiwa air.
Payudaranya: dua ikan.
Tangannya memegang cermin.
Rambutnya berbau lumut,
terpilin seperti lumut.
Di ambang putus asa
aku berseru:
“Kepastian yang kutemukan!
Aku tak akan melepaskanmu.
Aku tak akan kehilanganmu lagi.”
---
MALAM TERANG BULAN
(1973–1974)
Pada malam yang disinari bulan
bulan datang ke dalam mimpiku.
Ia membawaku pergi
gang demi gang,
ke kebun-kebun anggur,
ke pohon-pohon prem.
Lembah demi lembah,
padang demi padang,
melewati semak-semak
tempat peri malam
dengan gemetar takut
melangkah ke mata air
dan mulai menyisir
rambutnya yang liar.
Pada malam yang disinari bulan
bulan datang ke dalam mimpiku.
Ia membawaku
ke ujung lembah itu
tempat satu-satunya
pohon willow yang menangis
dengan anggun
mengulurkan tangannya—
sehingga setetes bintang
jatuh seperti hujan
menggantung dari dahannya
menggantikan buahnya.
Pada malam yang disinari bulan
bulan datang ke dalam mimpiku.
Ia membawaku keluar
dari penjara
seperti ngengat kecil
ke dalam malam yang gelap.
Ia membawaku
ke tempat para martir kota
dengan lentera darah
di alun-alun dan jalan-jalan
menangis sampai fajar:
“Hei, Paman!
Tuan yang pendendam!
Apakah kau mabuk
atau sadar?
Terjaga
atau tertidur?”
Kami mabuk dan tidak—
para martir kota ini.
Kami tidur dan terjaga—
para martir kota ini.
Pada suatu malam nanti
bulan akan terbit
di atas gunung itu,
di atas lembah itu,
dan melintasi alun-alun
dengan ringan.
Suatu malam bulan akan datang.
Suatu malam bulan akan datang.
---
*Ahmad Shamlou (1925–2000) adalah salah satu penyair paling berpengaruh dalam sastra Persia modern dan tokoh kunci dalam perkembangan puisi Iran abad ke-20.
Dikenal dengan nama pena A. Bamdad, ia merupakan pelopor aliran Sepid (Puisi Putih), sebuah gaya puisi bebas yang melepaskan diri dari aturan metrik ketat puisi klasik Persia namun tetap mempertahankan kedalaman emosional dan musikalitas kata.

Komentar
Posting Komentar