Di sebuah kerajaan yang besar, pesta meriah untuk merayakan pernikahan Sang Pangeran dengan seorang puteri yang berasal dari kerajaan seberang akan digelar dalam seminggu ke depan. Sementara ayah dari pangeran, Raja Hercule, masih kebingungan dalam memilih baju yang akan ia kenakan pada acara tersebut.
Raja yang terkenal karena sifatnya yang kasar dan tidak suka dibantah itu bahkan jadi susah tidur hanya karena hal demikian. Meski begitu, tidak ada orang—kecuali pangeran—yang berani menawarkan solusi kepada Sang Raja, seperti mengusulkan model pakaian untuknya, atau memberikan pendapat untuk hal lainnya. Karena seringnya, sesuatu yang bertentangan dengan pemikiran Raja, atau hal yang tidak disukai oleh Raja akan berakhir dengan amat tidak menyenangkan bagi si pemberi suara.
Lima hari menjelang acara pernikahan pangeran, ketika Raja Hercule beserta beberapa orang pengawal setianya berjalan mengelilingi pasar dengan tujuan meminta upeti, seorang penjual daging bermaksud memberikan saran setelah mendengar desas-desus yang menyebutkan bahwa Sang Raja tengah dalam kondisi gawat dan gelisah karena belum mampu memilih pakaian yang sesuai untuk acara pernikahan pangeran.
"Maaf, Raja. Kalau boleh saya memberi usul, bagaimana kalau Raja mengadakan sayembara membuat baju untuk Raja?"
Namun Raja hanya tertawa. Ia terpingkal-pingkal sebelum rautnya berubah drastis menjadi datar hingga menendang meja pedagang yang di atasnya berjejer banyak daging tersebut. "Kurang ajar sekali kau. Berani-beraninya mengusulkan hal semacam itu! Aku tidak ingin memakai ide rendahan seperti itu!"
Tak lama kemudian Raja berlalu sambil memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk memotong lidah penjual daging tersebut.
Sebelum kembali pulang ke istana, Raja dan pengawalnya terlebih dahulu mengontrol kinerja para petani di kebun teh. Wajah para petani nampak tegang sewaktu Raja datang. Namun tidak seperti di hari-hari biasanya, hari itu Raja tidak banyak bicara dan marah-marah.
Rupanya usul dari penjual daging di pasar tadi sedikit banyak sudah memengaruhi pikirannya. Raja nampak semakin bimbang. Bahkan sesudah ia pulang ke istana.
Di malam harinya, ketika ia makan malam bersama pangeran, Raja pun nampak masih kebingungan hingga membuat pangeran bertanya-tanya.
"Ada apa Ayahanda?"
"Oh, tidak ada apa-apa, Anakku. Bukan hal yang penting."
"Sungguh?" tanya pangeran mencoba mencari kebenaran.
"Sebenarnya Ayahanda masih kebingungan dalam memilih pakaian yang akan Ayahanda kenakan di hari pernikahanmu."
"Ayahanda masih memikirkan itu? Bukankah sudah aku tekankan, tidak penting apa yang Ayahanda pakai. Ayahanda adalah raja. Orang-orang akan segan dan tunduk, tidak peduli apa yang Ayahanda kenakan. Mereka tetap akan patuh dan percaya bahwa itulah pakaian terbaik yang cocok untuk Ayahanda."
"Tapi Anakku, Ayahanda tidak ingin mengecewakanmu, apalagi di hadapan Raja Richard dan istrinya, mertuamu, yang berasal dari kerajaan yang negerinya amat terkenal sebagai tempat penenun dan pembuat pakaian terbaik itu."
"Tidak usah Ayahanda pikirkan itu."
"O, Ayahanda sungguh bimbang," ucap raja tertunduk sebentar sebelum kembali mengangkat kepalanya dan memandang pangeran. "Tapi Ayahanda mendapat sedikit bayangan. Bagaimana sekiranya jika Ayahanda mengadakan sayembara memilih atau membuat pakaian untuk Sang Raja? Bagaimana pendapatmu, Anakku?"
"Benarkah Ayahanda memikirkan hal demikian? Hmm, benar-benar tidak seperti biasanya," sahut pangeran agak curiga. "Tapi aku kira itu ide yang bagus. Kalau saja ibunda masih ada, aku kira beliau pun pasti akan setuju."
"O, Anakku. Janganlah kau membuat Ayahandamu ini bertambah sedih." Sang Raja memeluk putera semata wayangnya.
Di malam yang sama, Raja memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengumumkan kabar sayembara tersebut ke seluruh penjuru negeri, bahwa Raja mengundang mereka semua untuk memilih atau membuatkan pakaian terbaik bagi Sang Raja untuk dikenakan di hari pernikahan puteranya.
Sayembara akan dilaksanakan dua hari lagi dan akan dilakukan di dalam sebuah ruangan tertutup yang mana hanya ada Raja di dalamnya. Selanjutnya, Raja disebut akan memberi dua karung besar emas kepada siapa pun yang nantinya memenangi sayembara itu.
***
Dua hari setelah sayembara itu diumumkan, di depan istana terlihat hanya ada tiga orang yang berani mengikuti tantangan sayembara dari Sang Raja. Orang pertama adalah wanita paruh baya yang bekerja sebagai penjahit. Orang kedua adalah lelaki tiga puluh tahunan pemilik toko pakaian terbaik di negeri tersebut. Sedangkan orang terakhir adalah pemuda yang menyebut dirinya sebagai pendatang yang bekerja di pasar.
Orang pertama dan orang kedua masuk kedalam ruangan Raja secara bergantian. Mereka sama-sama membawa sebuah peti kayu yang di dalamnya terdapat pakaian yang sudah siap untuk ditunjukkan kepada Raja. Namun naas, keduanya harus keluar dengan derai airmata, serta kondisi di mana lidah mereka sudah dipotong. Hal ini tentunya menambah jumlah rakyat tanpa lidah di negeri tersebut yang kini sudah mencapai sekitar seperempat dari keseluruhannya.
Kini tiba giliran pemuda pendatang untuk memasuki ruangan raja.
"Siapa namamu wahai Anak Muda?"
"Edward, Yang Mulia."
"Katakan apakah sebelumnya kita pernah bertemu? Wajahmu seperti tidak asing, tapi setelah kupikir-pikir, kau bukan rakyatku. Bukan begitu?"
"Tidak, Yang Mulia. Kita belum pernah bertemu," jelas pemuda itu. "Tetapi memang benar. Saya beserta keluarga saya memang hanyalah pendatang, Yang Mulia."
"O, begitu. Jadi apa pekerjaanmu, Anak Muda?"
"Saya hanyalah seorang pedagang di pasar, Yang Mulia."
"Apa? Apa kau bercanda? Seorang pedagang di pasar bermaksud menawarkan pakaian kepada Raja untuk dipakai di hari pernikahan puteranya? Sungguh lancang sekali!"
Pemuda itu hanya tersenyum.
"Apanya yang lucu!?" gertak Raja sambil membelalak matanya. "Kau lihat dua peti itu?" tunjuk Raja ke arah dua peti yang terbuka. "Itu pakaian yang disiapkan oleh seorang penjahit terbaik dan pemilik toko pakaian terbaik di negeri ini. Dan mereka sama sekali tidak menarik perhatianku. Apa yang sekiranya membuatmu berpikir aku layak mempertimbangkan pakaian yang kaubawa?"
"Pakaian yang saya bawa ini, Yang Mulia, bukanlah pakaian yang sembarangan. Saya membawakan jubah untuk Yang Mulia," jawab si pemuda dengan lembut sambil tersenyum dan menyerahkan sebuah peti yang sedikit lebih besar dari kedua peti sebelumnya kepada Raja.
Setelah Raja membuka peti tersebut, wajahnya jadi semerah cabai. Matanya tambah terbelalak.
"Kau mempermainkanku!?"
Pemuda itu masih tersenyum dengan santai. "Tidak, Yang Mulia."
"Lalu apa maksudnya ini?" tanya Raja dengan nada yang semakin tinggi.
"Biar saya jelaskan terlebih dahulu," ucap pemuda mendamaikan suasana. "Jubah ini adalah jubah yang ditenun oleh para bidadari..."
"Hah! Aku sama sekali tidak melihat ada jubah di dalam petimu! Kau jangan membual! Atau kauingin aku memotong kepalamu!?"
"Tidak, Yang Mulia," balas pemuda itu masih dengan santainya. "Sungguh, jubah ini adalah jubah yang ditenun oleh bidadari kayangan." Pemuda itu sedikit menarik peti dari hadapan Raja. Ia membuat gerakan seolah-olah mengangkat sesuatu dari dalam peti tersebut. Sementara Raja dengan wajah yang merah padam masih mencoba untuk mencerna ucapannya. "Kainnya memang seolah tidak terlihat bagi mereka yang berhati jahat," sambung si pemuda.
"Apa maksudmu?" tanya Raja memotong.
"Ya, jubah ini, lebih tepatnya akan semakin indah jika dilihat oleh orang-orang yang berhati baik, Yang Mulia." terang pemuda. "Apakah Yang Mulia juga melihat keindahannya?" Pertanyaan pemuda itu membuat raja agak tersentak.
"O, tentu saja. Aku melihatnya," jawab Raja sedikit tergagap.
"Bagaimana menurut Yang Mulia tentang jubah ini?"
"Ya.... bagaimana kalau kau terangkan terlebih dulu kelebihan jubah ini padaku."
"Tentu, Yang Mulia." Si pemuda melakukan gerakan seakan ia sedang mengebas sesuatu. "Selain ditenun langsung oleh bidadari, jubah ini juga memiliki kemilau yang berasal dari kepingan kecil berlian serta serbuk-serbuk permata. Dan jubah ini, Yang Mulia, tak perlu dicuci. Ia akan selalu bersih dan wangi."
Pemuda meminta Raja untuk mengulurkan kedua tangannya. Ia seolah sedang memindahkan suatu barang dari tangannya ke tangan Raja.
"Bagaimana Yang Mulia, bisa Anda rasakan kelembutan kainnya? Kain yang hanya ada di kayangan."
"O, ya ya. Aku merasakannya," jawab Raja agak terbata-bata dengan pandangan polos setengah percaya.
"Semua orang akan terpana pada pakaian Anda. Para undangan dan rakyat akan terkagum-kagum pada Anda. Dengan keindahan dan kemilau jubah ini, Anda akan terlihat seperti bintang-bintang di tengah malam."
"Sungguh?"
"Tentu. Bukankah seluruh tamu undangan dan rakyat di negeri Anda adalah orang-orang yang berhati baik?"
"Jelas!" jawab Raja tanpa keraguan.
"Kalau begitu mereka akan segera melihatnya. Yang perlu Anda lakukan hanyalah yakin dan percaya diri saat mengenakannya. "
"Baiklah, Anak Muda. Jubah darimu ini sungguh membuatku tertarik."
"Senang bisa membantu, Yang Mulia."
"Ini hadiah yang aku janjikan." Raja menghadapkan dua karung besar emas kepada pemuda itu. "Cepatlah ambil dan keluar dari sini."
Setelah pemuda itu keluar dari ruangan, Raja langsung menutup pintunya rapat-rapat. Cukup lama ia memandangi bagian dalam peti cokelat yang di matanya kosong itu sebelum benar-benar meyakini bahwa di dalam peti milik pemuda tersebut memang ada sebuah jubah yang berkilau indah. Kemudian ia membulatkan tekatnya untuk memakai jubah tersebut di hari pernikahan puteranya.
***
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pesta pernikahan tersebut dilangsungkan di halaman kerajaan. Pangeran tampil gagah dengan pakaian merah berlapis emas, Sang Puteri tampil anggun dengan gaun putih berhias berlian. Seluruh undangan bertepuk tangan. Rakyat yang hadir bersorak-sorai.
Dari dalam lorong yang menjadi jalan utama menuju halaman, para pengawal kerajaan hanya saling memandang keheranan tanpa ada satu pun yang berani untuk mengatakan sesuatu, sementara Raja Hercule lewat di hadapan mereka dengan dagu terangkat penuh wibawa.
Ketika nama Raja disebut, ia muncul dengan penuh keyakinan.
Seluruh tamu undangan dan rakyat yang hadir serentak tertawa diiringi teriakan. Raja berdiri tegap di hadapan ribuan orang tanpa sehelai pun benang.
Di antara banyak orang itu, terlihat pemuda pemberi jubah yang sedang merangkul ayahnya, penjual daging di pasar yang kini sudah tidak memiliki lidah. Mereka nampak tersenyum menang.

Waah akhirnya bisa nyampe juga ke tempat ini. Keren👍
BalasHapusMantap. Beta suka ceritanya.
BalasHapusBeta tertarik dengan gambar raja🙂
Mantap. Beta suka ceritanya.
BalasHapusBeta tertarik dengan gambar raja🙂
Kesasar ke sini, jgn lupa mampir ke rumahfiksi.com
BalasHapus