PUISI-PUISI NICANOR PARRA



SEPERTI YANG PERNAH KUKATAKAN

yang paling utama dalam segala hal
belum ada berarti tidak akan ada
seorang lelaki yang lebih mahir bercinta daripada aku
dulu aku punya pengasuh bayi
datang tujuh belas kali berturut-turut.

Akulah penemu Gabriela Mistral
sebelum aku, tidak ada yang mengenal puisi
Aku seorang atlet: berlari seratus meter
Dalam sekejap mata

seperti yang semua orang tahu, akulah yang membawa gambar berbicara ke Chili
dalam artian tertentu, kalian boleh mengatakan
aku uskup pertama negeri ini
produsen topi pertama
orang pertama yang melihat kemungkinan
perjalanan ruang angkasa

Kuberi tahu Che Guevara, "Bolivia, Tidak"
Aku menjelaskannya dengan sangat detail
Kuperingatkan bahwa hidupnya akan dalam bahaya

andai dia mendengarkanku
apa yang terjadi padanya tentu tidak akan terjadi
ingat apa yang terjadi pada Che Guevara di Bolivia?

mereka biasa memanggilku dungu di kampus
tapi aku murid terbaik di kelas
Aku sama seperti yang kalian lihat sekarang
muda—tampan—cerdas
seorang jenius yang akan kukatakan:
sangat menarik
dengan penis yang panjang seperti keledai
gadis-gadis kampus dapat mengetahui ukurannya satu blok jauhnya
meski sudah kulakukan yang terbaik untuk bisa menyembunyikannya.


PERINGATAN

Dilarang berdoa, tidak boleh bersin.
Dilarang meludah, memuji, berlutut
Menyembah, melolong, berharap.
Dilarang tidur di kawasan ini
Tidak boleh menyuntik, berbicara, mengucilkan
Harmonisasi, melarikan diri, menangkap.
Lari sangat dilarang.
Dilarang merokok. Tidak boleh bercinta.

 

JAM BERAPA SEKARANG

Ketika orang yang sekarat
Lantas bangun beberapa saat
Dan bertanya pada kerabatnya jam berapa sekarang
—Berkumpul seolah-olah dengan sihir
Di sekitar ranjang kematian—
Dengan suara yang membuat bulu kuduk mereka bergidik

Berarti ada yang salah
Berarti ada yang salah
Berarti ada yang salah


INFLASI

Harga roti naik jadi roti naik lagi
Harga sewa naik
Ini membuat semua harga sewa naik
Harga baju naik 
Jadi harga baju naik lagi.
Tak terelakkan
Kami terjebak dalam lingkaran setan.
Di kandang ada makanan.
Tidak banyak, tapi ada makanan.
Di luar busur hanya bentangan kebebasan yang raya.

 
SITUASI YANG RUMIT

Kau hanya perlu melihat matahari
melalui kaca asap
untuk mengetahui hal-hal yang buruk:
atau mungkin kau pikir semuanya baik-baik saja.

kukatakan kita harus kembali
ke kereta yang ditarik oleh kuda
ke pesawat yang digerakkan oleh uap
ke rak TV yang dibuat dari batu.

Orang tua itu benar:
Kita harus kembali dan memasak dengan kayu lagi.

 

SALIB

Cepat atau lambat aku akan berbalik dengan air mata
ke tangan salib yang terbuka.

Lebih cepat dari nanti aku akan jatuh
berlutut di kaki salib.

Sulit
untuk tidak menikah dengan salib:
lihat bagaimana dia memelukku?

Tidak hari ini

        besok
        atau lusa
besok
tapi itu pasti akan terjadi

Untuk saat ini salib adalah pesawat terbang
seorang wanita merentangkan kakinya

 

SEORANG PRIA

Ibu dari pria itu sakit parah
Dia mencari dokter
Dia menangis
Dalam perjalanan dia melihat istrinya bersama pria lain
Mereka bergandengan tangan
Dia mengikuti mereka dari jarak yang agak jauh
Dari pohon ke pohon
Dia menangis
Dia melihat seorang teman dari masa mudanya
Mereka belum pernah bertemu satu sama lain selama bertahun-tahun!
Mereka berhenti di sebuah bar
Mereka berbicara, mereka tertawa
Pria itu keluar untuk buang air kecil di teras
Dia melihat seorang gadis muda
Ini malam hari
Dia sedang mencuci piring
Pria itu menghampirinya
Dia meraih pinggangnya
Mereka melenggang bersama
Mereka pergi bersama
Mereka tertawa
Ada kecelakaan
Gadis itu tidak sadar
Pria itu pergi mencari telepon
Dia menangis
Dia datang ke sebuah rumah yang lampunya menyala
Dia ingin meminjam telepon
Seseorang mengenalinya
Menginap untuk makan malam
Tidak
Di mana teleponnya?
Ayo makan
Lalu kau boleh pergi
Dia duduk untuk makan
Dia minum seperti orang gila
Dia tertawa
Mereka membuatnya membaca
Dia membaca
Dia berakhir di bawah meja tertidur.


HARUSNYA ADA PEMAKAMAN

sebaliknya, tidak ada cara untuk menjelaskan
rumah-rumah tanpa jendela atau pintu
garis mobil yang tak berkesudahan itu

dan dilihat dari bayangan berpendar
kita mungkin ada di neraka

di bawah salib itu aku yakin
semestinya ada gereja


CHILI

Sangat menyenangkan melihat para petani di Santiago Chili
datang dan pergi di sepanjang jalan-jalan pusat kota
atau bergerak di sepanjang jalan di pinggiran kota
dengan wajah mengerut—pucat—khawatir—takut mati
tentang tatanan politik
tentang aturan seks
tentang tatanan agama
menerimanya begitu saja
bahwa kota dan penduduknya ada:
meskipun telah diperlihatkan
bahwa orang-orang belum lahir
dan tidak akan lahir sebelum mereka mati
dan Santiago Chili adalah gurun.

Mereka pikir mereka adalah sebuah negara
Kebenarannya, tempat itu bahkan hampir tak menyerupai daratan.

SEPERTI POHON

Mengapa kau serahkan dirimu ke batu itu?
Anak bermata almond
Dengan pikiran tak murni
Melemparnya ke pohon
Yang tiada pernah menyakiti sesiapa
Ia tak pantas diperlakukan seburuk itu
Entah pohon willow yang termenung
Atau pohon jeruk yang melankolis
Harus selalu di dekat pria yang
Terpandang dan terhormat itu:
Anak nakal yang menyakiti,
Melukai ayah dan saudaranya.
Aku sungguh tak mengerti
Bagaimana bisa seorang anak laki-laki bersikap tak sepantas itu
Menjadi begitu adil, begitu lembut
Pasti ibumu
Tak tahu gagak yang dibesarkannya,
Ia menganggapmu sebagai pria sejati
Kupikir malah sebaliknya:
Aku tidak berpikir semua
Bocah di Chili jahat
Mengapa kau berikan dirimu ke batu itu?
Layaknya belati beracun
Kau tentu mengerti
Orang hebat adalah pohonnya
Dia memberimu buah yang lezat
Lebih dari susu, lebih dari narwastu;
Kayu bakar emas di musim dingin
Bayangan perak di musim panas
Dan lebih dari semuanya berkumpul,
Ciptakan angin dan burung
Pikirkan dan kenali
Tidak ada teman seperti pohon,
Dari mana pun asalmu
Kau akan selalu menemukannya di dekatmu
Entah kau akan langkahkan kaki ke tanah yang kokoh
Atau berpindah ke laut yang kasar
Entah kau sedang terhanyut dalam buaian
Atau di suatu waktu kau sekarat
Yang lebih setia ketimbang cermin
Lebih tunduk daripada seorang budak
Renungkan sedikit apa yang sudah kau perbuat
Lihatlah,
Tuhan sedang mengawasimu
Mintalah Tuhan untuk mengampunimu
Dari dosa yang besar
Jangan lagi ada batu yang tak tahu rasa syukur
Bersiul dari tanganmu


Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia secara bebas dari buku "Nicanor Parra - Emergency Poems" Translated by Miller Williams

Komentar