CAPUNG MERAH
Capung merah di langit matahari terbenam yang merah,
di langit matahari terbenam yang jingga
Digendong di punggungnya,
aku melihatnya pada satu waktu
Di ladang gunung, kami memetik buah murbei
Dan memasukkannya ke dalam keranjang kecil,
apakah itu fatamorgana?
Pada usia lima belas, gadis muda itu menikah
Dan surat-surat tak lagi tiba
Capung merah di langit matahari terbenam yang merah,
di langit matahari terbenam yang jingga itu
ia berhenti di ujung tiang bambu
SETELAH CIUMAN
“Apakah kamu tertidur?”
“Tidak,” jawabmu.
Bunga-bunga di bulan Mei
Bermekaran di siang hari.
Di rerumputan tepi telaga
Dibawah sinar mentari,
“Aku bisa memejamkan mata
dan mati di sini,” katamu.
KAMPUNG HALAMAN
Pohon-pohon Harapan, kampung halamanku…
Sebuah seruling tiada pernah bersuara di dahan
pula bergetar di bawah bulan
Gadis di sampingku bersemangat
mendengarkan seruling dan menangis
Bahkan setelah sepuluh tahun
apakah hatimu masih seperti dulu?
Meskipun kamu seorang ibu
Apakah air matamu masih mengalir?
Diterjemahkan dari buku The singing heart : an anthology of Japanese poems (1900–1960) compiled and annotated by Yamamoto Kenkichi ; translated by William I. Elliott and Nishihara Katsumasa.

Komentar
Posting Komentar